TUGAS
ETIKA
BISNIS
“Pengertian Budaya Organisasi dan Perusahaan, Hubungan Budaya dan Etika,
Kendala dalam Mewujudkan Kinerja Bisnis
Etis”
Dosen : Dr. Herry Sussanto,
SE, MM.
Disusun Oleh
3EA01
Ati Dina
Nasihah (11217031)
FAKULTAS EKONOMI
S1- MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK 2020
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya
organisasi adalah persamaan persepsi yang dipegang oleh anggota organisasi
dalam memberikan arti (share meaning) dari suatu sistem nilai yang ada. Persamaan
persepsi ini penting mengingat bahwa anggota organisasi mempunyai latar
belakang dan level yang berbeda.
Masing-masing
karakteristik ini berada dalam suatu kesatuan, dari tingkat yang rendah menuju
tingkat yang lebih tinggi. Menilai suatu organisasi dengan menggunakan tujuh
karakter ini akan menghasilkan gambaran mengenai budaya organisasi tersebut.
Gambaran tersebut kemudian menjadi dasar untuk perasaan saling memahami yang
dimiliki anggota organisasi mengenai organisasi mereka, bagaimana segala sesuatu
dikerjakan berdasarkan pengertian bersama tersebut, dan cara-cara anggota
organisasi seharusnya bersikap.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka kami
mendapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa
saja karakteristik budaya organisasi ?
2. Apa
saja fungsi budaya organisasi ?
3. Bagaimana
pedoman dan tingkah laku ?
4. Bagaimana
apresiasi budaya ?
5. Bagaimana
hubungan dan budaya ?
6. Bagaimana
pengaruh etika terhadap budaya ?
7. Bagaimana
kendala mewujudkan kendala kinerja bisnis ?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui
karakteristik budaya organisasi
2. Mengetahui
fungsi budaya organisasi
3. Mengetahui
pedoman dan tingkah laku
4. Mengetahui
apresiasi budaya
5. Mengetahui
hubungan dan budaya
6. Mengetahui
pengaruh etika terhadap budaya
7. Mengetahui
kendala mewujudkan kendala kinerja bisnis
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Budaya Organisasi
Karakteristik
budaya organisasi, yaitu;
1. Inovasi
dan pengambilan resiko
Tingkat daya dorong
karyawan untuk bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.
2. Perhatian
terhadap detail
Tingkat tuntutan terhadap
karyawan untuk mampu memperlihatkan ketepatan, analisis dan perhatian terhadap
detail.
3. Orientasi
terhadap hasil
Tingkat tuntutan terhadap
manajemen untuk lebih memusatkan perhatian pada hasil dibandingkan perhatian
pada teknik dan proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut.
4. Orientasi
terhadap individu
Tingkat keputusan manajemen
dalam mempertimbangkan efek-efek hasil terhadap individu yang ada di dalam
organisasi.
5. Orientasi
terhadap tim
Tingkat aktivitas pekerjaan
yang diatur dalam tim, bukan secara
perorangan.
6. Agretivitas
Tingkat tuntutan terhadap
orang-orang agar berlaku agresif dan bersaing, dan tidak bersikap santai.
7. Stabilitas
Tingkat penekanan aktivitas
organisasi dalam memper-tahankan status quo berbanding pertumbuhan.
2.2 Fungsi Budaya Organisasi
Budaya
organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah
sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya. Menurut Robbins
(1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
1. Budaya
menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
2. Budaya
membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3. Budaya
mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada
kepentingan diri individual seseorang.
4. Budaya
merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan
memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
5. Budaya
sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap
serta perilaku karyawan.
2.3 Pedoman Tingkah Laku
Terdapat
tiga faktor yang menjelaskan perbedaan pengaruh budaya yang dominan terhadap
perilaku, yaitu:
1. Keyakinan
dan nilai-nilai bersama.
2. Dimiliki
bersama secara luas.
3. Dapat
diketahui dengan jelas, mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap perilaku.
2.4 Apresisasi Budaya
Apresiasi
Budaya adalah pemahaman dan pengenalan secara tepat sehingga tumbuh penghargaan
dan penilaian terhadap hasil budaya kegiatan menggauli hasil budaya
dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan
kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap hasil karya
Apresiasi
kebudayaan adalah penghargaan dan pemahaman atas budaya (Natawidjaja, 1980),
kegiatan menggauli (kebudayaan) dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh
pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang
baik (terhadap kebudayaan) (Effendi, 1974), pendek kata, penghargaan (terhadap
kebudayaan) yang didasarkan pada pemahaman (Sudjiman, 1984).
2.5 Hubungan Etika dan Budaya
Hubungan etika dan budaya antara lain :
1. Etika
dalam implementasinya dipengaruhi oleh agama dan budaya
2. Agama
dan budaya dianggap sebagai sumber hukum, peraturan dan kode etik.
3. Sebagai
sumber maka agama dan budaya lebih independen.
Hubungan etika dengan
budaya perusahaan
Etika
merupakan standar moral yang menyangkut baik-buruk dan benar-salah. Etika
bisnis meliputi:
a. Etika perusahaan
Hubungan perusahaan dengan
karyawan sebagai satu kesatuan dengan lingkungannya
b. Etika
kerja
Hubungan antara perusahaan
dengan karyawan
c. Etika
perorangan
Hubungan antar karyawan
2.6 Pengaruh Etika terhadap Budaya
Perilaku
etis dapat menimbulkan saling percaya antara perusahaan dengan stakeholder.
Perilaku etis dapat mencegah pelanggan, pegawai dan pemasok bertindak
oportunis, serta tumbuhnya saling percaya. Budaya perusahaan memberi kontribusi
signifikan terhadap pembentukan perilaku etis. Budaya dapat mendorong
terciptanya perilaku etis atau sebaliknya dapat mendorong terciptanya perilaku
tidak etis. Faktor yang menyebabkan terciptanya iklim etika dalam perusahaan:
a. Terciptanya
budaya perusahaan secara baik.
b. Terbangunnya
suatu kondisi organisasi berdasarkan saling percaya.
c. Terbentuknya
manajemen hubungan antar pegawai.
2.7 Kendala Mewujudkan Kinerja Bisnis
Pencapaian
tujuan etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa masalah dan
kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa kendala tersebut yaitu:
1. Standar moral para pelaku bisnis
pada umumnya masih lemah.
Banyak
di antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan
menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika
bisnis, seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang
kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.
2. Banyak perusahaan yang mengalami
konflik kepentingan.
Konflik
kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang
dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya,
atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik bisnis yang
dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara kepentingan
perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang teguh standar
moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan dengan mengabaikan
peraturan.
3. Situasi politik dan
ekonomi yang belum stabil.
Hal
ini diperkeruh oleh banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit
politik, yang di satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya
memberi kesempatan bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna
keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang
menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan tanpa
menghiraukan akibatnya.
4. Lemahnya penegakan
hukum.
Banyak
orang yang sudah divonis bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan
tetap memangku jabatannya di pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk
memotivasi pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan
manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis dan manajemen.
Organisasi
seperti KADIN beserta asosiasi perusahaan di bawahnya belum secara khusus
menangani penyusunan dan penegakkan kode etik bisnis dan manajemen.
2.8 Contoh Kasus
2.8.1 Budaya Organisasi PT BNI
Berdiri sejak 1946, BNI
yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia, merupakan bank pertama yang
didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Sehubungan dengan penambahan
modal pada tahun 1955, status Bank Negara Indonesia diubah menjadi bank
komersial milik pemerintah. Perubahan ini melandasi pelayanan yang lebih baik
dan tuas bagi sektor usaha nasional. Sejalan dengan keputusan
penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama Bank
Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir tahun 1968. Perubahan ini
menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai 'BNI 46'. Penggunaan
nama panggilan yang lebih mudah diingat - 'Bank BNI' - ditetapkan bersamaan
dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988. Tahun1992, status hukum dan
nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sementara
keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui penawaran saham
perdana di pasar modal pada tahun 1996. Adapun visi, misi, dan nilai PT BNI
adalah sebagai berikut :
a.
Visi BNI
Menjadi
Bank kebanggaan nasional yang Unggul, Terkemuka dan Terdepan dalam Layanan dan Kinerja
Pernyataan
Visi
Menjadi
Bank kebanggaan nasional, yang menawarkan layanan terbaik dengan harga
kompetitif kepada segmen pasar
korporasi, komersial dan konsumen.
b.
Misi BNI
1.
Memberikan layanan prima dan solusi yang
bernilai tambah kepadaseluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the
bank choice).
2.
Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi
investor.
3.
Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat
kebanggaan untuk berkaryadan berprestasi.
4.
Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab
terhadap lingkungansosial.
5.
Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata
kelola perusahaan yang baik.
c.
Values
Kenyamanan dan Kepuasan.
d.
Filosofi Logo Baru
Identitas
Baru BNI – Dasar Pembuatan DesainIdentitas baru BNI merupakan hasil desain
ulang untuk menciptakan suatu identitas yang tampak lebih segar, lebih modern,
dinamis, serta menggambarkan posisi dan arah organisasi yang baru. Identitas
tersebut merupakan ekspresi brand baru yang tersusun dari simbol “46” dan
kata“BNI” yang selanjutnya dikombinasikan dalam suatu bentuk logo baru BNI.
-
Huruf BNI
Huruf
“BNI” dibuat dalam warna turquoise baru, untuk mencerminkankekuatan, otoritas,
kekokohan, keunikan dan citra yang lebih modern. Huruf tersebut dibuat secara
khusus untuk menghasilkan struktur yang orisinal danunik.
-
Simbol “46”
Angka 46 merupakan simbolisasi tanggal
kelahiran BNI, sekaligus mencerminkan warisan sebagai sebagai bank pertama di
Indonesia. Dalam logo ini, angka “46” diletakkan secara diagonal menembus kotak
berwarna jingga untuk menggambarkan BNI baru yang modern.
-
Palet Warna
Palet warna korporat telah didesain ulang,
namun tetap mempertahankan warna korporat yang lama, yakni turquoise dan
jingga. Warna turquoiseyang digunakan pada logo baru ini lebih gelap, kuat
mencerminkan citra yang lebih stabil dan kokoh. Warna jingga yang baru lebih
cerah dan kuat,mencerminkan citra lebih percaya diri dan segar.Logo “46” dan
“BNI” mencerminkan tampilan yang modern dan dinamis.Sedangkan penggunakan warna
korporat baru memperkuat identitas tersebut.Hal ini akan membantu BNI melakukan
diferensiasi di pasar perbankan melalui identitas yang unik, segar dan modern.
2.8.2 Karakteristik
Budaya Organisasi PT BNI
Budaya Organisasi BNI ”PRINSIP 46” merupakan Tuntunan
Perilaku Insan BNI, terdiri dari :
- 4
(Empat) Nilai Budaya Organisasi :
1. Profesionalisme
2. Integritas
3.
Orientasi pelanggan
4. Perbaikan tiada henti
- 6
(Enam) Nilai Perilaku Utama Insan BNI :
1.
Meningkatkan Kompetensi dan Memberikan Hasil
Terbaik
2.
Jujur, Tulus dan Ikhlas
3.
Disiplin, Konsisten dan Bertanggungjawab
4.
Memberikan Layanan Terbaik Melalui Kemitraan
yang Sinergis
5.
Senantiasa Melakukan Penyempurnaan
6.
Kreatif dan Inovatif
Setiap Nilai Budaya Organisasi BNI memiliki Perilaku
Utama yang merupakan acuan bertindak bagi seluruh Insan BNI, 6 (enam) Perilaku
Utama Insan BNI adalah :
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Budaya organisasi adalah persamaan
persepsi yang dipegang oleh anggota organisasi dalam memberikan arti (share
meaning) dari suatu sistem nilai yang ada. Menilai suatu organisasi dengan
menggunakan tujuh karakter ini akan menghasilkan gambaran mengenai budaya
organisasi tersebut. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas
tingkah laku individu yang ada didalamnya. Budaya dapat mendorong terciptanya
perilaku etis atau sebaliknya dapat mendorong terciptanya perilaku tidak etis.
Komentar
Posting Komentar