ASPEK PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEUANGAN TERKAIT DENGAN KURS MATA UANG ASING, SERTA KEMUNGKINAN IMPLIKASI BISNIS YANG TERJADI AKIBAT FLUKTUASI NILAI TUKAR
A.
SISTEM
KEUANGAN INTERNASIONAL
Keuangan internasional (juga disebut
ekonomi moneter internasional atau ekonomi makro internasional) adalah cabang
ekonomi keuangan yang mempelajari keterkaitan dua negara atau lebih dari sisi
moneter dan ekonomi makro. Keuangan internasional mempelajari dinamika sistem
keuangan global, sistem moneter internasional, neraca pembayaran, nilai tukar,
investasi asing langsung, dan hubungannya dengan perdagangan internasional.
Keuangan internasional, kadang disebut keuangan multinasional, menangani
manajemen keuangan internasional. Investor dan perusahaan multinasional harus
menilai dan mengelola risiko internasional seperti risiko politik dan risiko
valuta asing, termasuk keterpaparan transaksi, keterpaparan ekonomi, dan
keterpaparan penerjemahan. Berikut sistem keuangan internasional yang pernah
diterapkan mulai dari zaman dahulu hingga sekarang:
1.
Sistem
Standar Emas
Sistem
standar emas adalah sistem keuangan yang berdasar pada nilai emas sebagai acuan
untuk alat pembayaran yang sah, dasar penentuan nilai uang, dan sebagai dasar
dalam menentukan atau pembanding nilai tukar mata uang. Hakikatnya nilai mata
uang suatu negara apakah itu berupa uang kertas maupun jenis lainnya, dalam
sistem standar emas nilai mata uang tersebut akan berkaitan langsung dengan
nilai emas yang dimiliki oleh suatu negara. Sederhananya adalah negara berhak
mencetak uang sebanyak-banyaknya sesuai dengan mata uang negara yang sah dengan
persyaratan jumlah emas yang disimpan atau dimiliki oleh negara memiliki nilai
yang sama dengan jumlah uang yang dicetak. Sistem standar emas merupakan sistem
keuangan yang pertama kali muncul dalam sejarah ekonomi dan keuangan di dunia.
Pada dasarnya emas itu sendiri lebih dari 1000 tahun yang lalu dikenal dan
digunakan sebagai mata uang. Awal mula pemikiran menggunakan emas adalah karena
secara fisik memiliki wujud dan nilai yang sama di dunia manapun, sehingga uang
emas mudah diterima dan digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi baik itu
transaksi jual beli maupun untuk upah. Kemudian dalam catatan sejarah emas
digunakan sebagai standar dan sistem keuangan internasional terjadi pada tahun
1821 dimana saat itu Inggris mulai mengenalkan dan menerapkan sistem ini ke
seluruh dunia. Hingga tahun 1870 masyarakat eropa mulai menerapkan sistem
standar emas secara global dan pada tahun 1879 sistem ini mulai merambah hingga
ke Amerika. Beberapa alasan kenapa banyak negara yang mulai menerapkan sistem
standar emas adalah karena adanya kestabilan terhadap nilai kurs valuta asing,
nilai kurs yang relatif stabil tersebut merupakan dampak dari kebijakan yang
diterapkan dalam kegiatan ekspor impor emas. Selain itu kelebihan lainnya
adalah kecilnya defisit atau surplus dalam neraca pembayaran lebih cenderung
tidak terlalu berlarut lama akan tetapi secara berkelanjutan akan menyusut
dengan sendirinya dan akan kembali seimbang ke posisi semula.
2.
Sistem
Bretton Woods
Berakhirnya
perang dunia pertama membawa dampak buruk yang berkepanjangan terhadap laju
perkembangan perekonomian di seluruh negara-negara di dunia. Penerapan sistem
standar emas dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi negara setelah perang
dunia pertama, hal ini disebabkan berkurangnya pasokan komoditas emas untuk
dikonversi kedalam mata uang negara. Dengan memburuknya kondisi ekonomi yang
dirasakan oleh banyak negara, kemudian mendorong banyak negara untuk memecahkan
permasalahan yang sama dengan mengadakan pertemuan dengan negara-negara di
dunia untuk mencari solusi dalam memperbaiki kondisi perekonomian pasca perang,
terutama dalam masalah sistem keuangan atau moneter.
Dampak
krisis pasca perang dunia pertama sangat terasa bagi mayoritas negara-negara
eropa, bank-bank dinyatakan bangkrut dan mengalami defisit yang sangat tinggi.
Di lain sisi Amerika termasuk negara yang tidak merasakan dampak krisis
tersebut, hal ini disebabkan karena melimpahnya cadangan emas yang dimiliki
oleh Amerika. Dengan kondisi perekonomian yang stabil, kemudian Amerika
menggagas sebuah pertemuan dengan negara-negara dunia Internasional untuk
membahas masalah krisis yang terjadi di Eropa. Pertemuan tersebut dilaksanakan
di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat pada tahun 1944 dan dihadiri
oleh perwakilan dari 44 negara di dunia. Dari pertemuan ini kemudian akan
menjadi sebuah sejarah tentang terbentuk sistem baru dalam dunia keuangan
internasional yang diposisikan sebagai pengganti dari sistem standar emas yaitu
Sistem Bretton Woods.
3.
Sistem
Kurs Mengambang Terkendali
Setelah muncul Sistem Bretton Woods yang kemudian melahirkan banyak kesepakatan dan terbentuknya lembaga-lembaga keuangan internasional memberikan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan bertambahnya pendapatan negara, perdagangan dunia yang semakin berkembang luas, dan ketersediaan lapangan pekerjaan yang merata. Kembalinya stabilitas perekonomian dunia merupakan puncak sukses dari penerapan Sistem Bretton Woods yang berlangsung hampir 20 tahun. Meskipun Sistem Bretton Woods terbukti memiliki peran dalam restorasi sistem perekonomian dunia, namun pada kenyataannya penerapan sistem ini mulai mengalami banyak masalah yang kemudian berpengaruh pada tingkat kepercayaan negara-negara terhadap kondisi ekonomi Amerika. Diawali dengan adanya perang Vietnam yang terjadi pada tahun 1960-an, situasi ini merupakan pemicu terjadinya inflasi di Amerika yang mana pada saat itu mulai ditandai dengan upaya pemerintah Amerika yang mencetak uang lebih besar dari jumlah cadangan emas yang dimiliki negara. Karena efek inflasi yang berkepanjangan inilah negara-negara eropa mulai menarik kembali emas dalam bentuk cadangan dollar seperti yang termuat dalam perjanjian Bretton Woods.
Perubahan sentimen
negara Eropa terhadap inflasi menyebabkan Amerika harus melepas cadangan
emasnya untuk memenuhi tuntutan negara-negara eropa hingga sistem keuangan
Amerika dinyatakan terjadi defisit neraca pembayaran. Tahun 1972 merupakan
tahun dimana Sistem Bretton Woods tidak dijalankan lagi, karena mengalami
banyak masalah yang berakibat pada ketidakstabilan cadangan emas yang dimiliki
oleh Amerika. Setelah Sistem Bretton Woods berakhir maka sistem moneter
internasional mulai diambil alih oleh IMF yang kemudian lahirlah sistem
keuangan baru yang disebut dengan Sistem Kurs Mengambang Terkendali atau
Managed Float. Yang dimaksud dengan Sistem Kurs Mengambang Terkendali adalah
sebuah sistem keuangan internasional yang merupakan penggabungan antara sistem
nilai tukar tetap dan sistem nilai fleksibel. Dengan menerapkan sistem ini maka
akan terlihat perubahan nilai tukar yang terus berubah-ubah setiap harinya dan
hal ini menunjukkan sebuah respons terhadap aktivitas pasar. Karena sifat yang
dinamis inilah maka dibutuhkan sebuah perantara atau media yang memiliki
pengaruh dalam mengendalikan kestabilan pasar terhadap perubahan nilai tukar,
perantara atau media yang dibutuhkan dalam kegiatan pasar diwakili oleh adanya
bank sentral.
B. MATA
UANG ASING (VALUTA ASING)
Valuta asing merupakan mata uang yang
diakui, digunakan, dipakai, dan juga diterima sebagai alat pembayaran dalam
perdagangan internasional. Valuta asing yang banyak dipakai biasanya merupakan
mata uang suatu negara yang memiliki peranan ataupun kendali yang cukup besar
dalam sistem perekonomian di seluruh dunia. Di seluruh dunia sendiri, valuta
asing yang paling banyak digunakan adalah Dollar.
Valuta asing merupakan bagian dari
devisa suatu negara. Devisa sendiri merupakan setiap kekayaan yang dimiliki
oleh suatu negara yang berada di luar negeri yang wujudnya dapat berupa barang,
jasa, atau bahkan mata uang yang digunakan sebagai alat transaksi perdagangan
lintas negara. Devisa suatu negara yang berbentuk mata uang ini lah yang sering
kita sebut dengan istilah valuta asing.
Fungsi Valuta Asing
1. Alat tukar internasional.
Pada fungsi ini, valas berguna untuk melakukan transaksi jika sedang berada di
luar negeri. Selain itu, valas juga berguna untuk kegiatan tukar-menukar barang
dan jasa dengan negara lain, misalnya dalam ekspor dan impor.
2. Alat pengendali kurs.
Valas berguna sebagai pembanding nilai mata uang antar negara, atau yang biasa
akrab kita kenal dengan istilah kurs, yang mana kurs mata uang suatu negara
bisa melemah atau menguat. Valas berguna sebagai alat untuk mengendalikan kurs
pada mata uang asing.
3. Alat pembayaran internasional.
Valas dapat berfungsi sebagai alat pembayaran internasional, misalkan suatu
negara memiliki hutang dengan negara lain, maka negara yang berhutang ini bisa
membayarkan hutangnya dengan valuta asing yang sesuai beserta bunga-nya.
4. Alat mempermudah perdagangan
internasional. Dengan menggunakan valas, maka setiap negara
bisa melakukan kegiatan jual beli antar negara tanpa terkendala mata uang.
Jenis-jenis Valuta
Asing
Valas
dibedakan menjadi dua kelompok, dan berikut penjelasannya:
1. Valuta asing fisik.
Valas fisik biasanya berupa uang asing atau uang negara lain dalam bentuk uang
kartal, baik yang berupa uang kertas bank, uang kertas negara, ataupun uang
logam.
2. Valuta asing non fisik.
Valas non fisik biasanya berbentuk uang giral atau surat-surat berharga.
Contohnya antara lain cek, wesel, internasional money, travelers, dan cheque.
C. IMPLIKASI
BISNIS AKIBAT FLUKTUASI NILAI TUKAR
Fluktuasi mata uang adalah hasil alami
dari sistem nilai tukar yang berubah-ubah yang merupakan norma dari sebagian
besar perekonomian utama. Nilai tukar satu mata uang terhadap yang lain
dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental dan teknis. Termasuk diantaranya
jumlah pasokan dan permintaan dari dua mata uang tersebut, kinerja ekonomi,
prospek inflasi, perbedaan suku bunga, arus modal, dukungan teknis dan tingkat
resistensi, dan sebagainya. Karena faktor-faktor ini umumnya dalam keadaan
fluks terus-menerus maka nilai mata uang berfluktuasi dari waktu ke waktu.
Namun, walaupun tingkat mata uang sebagian besar seharusnya ditentukan oleh
ekonomi yang mendasarinya, hal ini sering berubah-ubah, karena gerakan besar
dalam mata uang juga bisa mendikte nasib perekonomian suatu negara
Fluktuasi nilai tukar kurs pertukaran barang dan jasa dalam perdagangan internasional juga akan diikuti dengan pertukaran mata uang suatu negara dengan negara lain. Nilai mata uang suatu negara berbeda dengan negara lain. Oleh karena itu perlu dilakukan antisipasi dan manajemen keuangan yang baik untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi. Ini mengacu pada perdagangan internasional seperti ekspor atau impor. Secara umum, mata uang yang lebih lemah akan merangsang ekspor dan membuat impor lebih mahal sehingga bisa mengurangi defisit perdagangan suatu negara dari waktu ke waktu. Depresiasi mata uang domestik adalah alasan utama mengapa bisnis ekspor tetap kompetitif di pasar internasional. Sebaliknya mata uang yang lebih kuat dapat mengurangi daya saing ekspor dan membuat impor lebih murah sehingga dapat menyebabkan defisit perdagangan semakin besar yang akhirnya melemahkan mata uang.
Sumber:
http://diajenganindita.blogspot.com/2019/11/konsep-pemasaran-universal-pada.html
http://annasbanimalik.blogspot.com/2019/12/aspek-pengambilan-keputusan-keuangan.html
https://kamus.tokopedia.com/v/valuta-asing/
https://informasiforex.com/pengaruh-fluktuasi-mata-uang-pada-perekonomian/
Komentar
Posting Komentar