TUGAS
ETIKA
BISNIS
“Model Etika dalam Bisnis, Sumber
Nilai Etika dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Etika Manajerial”
Dosen
: Dr. Herry Sussanto, SE, MM.
Disusun
Oleh
3EA01
Ati Dina Nasihah
(11217031)
FAKULTAS EKONOMI
S1- MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK 2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perilaku etis
dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi kelangsungan hidup
bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri
terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan
saja bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis
tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang
baik, juga dalam konteks bisnis, merupakan perilaku yang sesuai dengan
nilai-nilai moral.
Etika bisnis
adalah bagian dari filsafat. Secara garis besar pengertian filsafat, etika dan
etika bisnis berhubungan erat satu sama lain. Filsafat dalam arti luas adalah
suatu usaha sistematis untuk memahami pengalaman manusia secara pribadi
dan kolektif/kelompok. Berbeda dengan teologi maka filsafat menggunakan rasio
untuk menafsirkan pengalaman manusia dan bukan mengandalkannya pada wahyu
Ilahi.
Sasaran etika
adalah moralitas (etika merupakan filsafat tentang moral). Moralitas adalah
istilah yang dipakai untuk mencakup praktek dan kegiatan yang membedakan apa
yang baik dan apa yang buruk, aturan-aturan yang mengendalikan kegiatan itu dan
nilai-nilai yang tersimbul di dalamnya yang dipelihara atau dijadikan sasaran
oleh kegiatan praktek tersebut.
Pembahasan
dibawah ini kita akan mempelajari sumber ilmu dari etika bisnis itu sendiri.
Dimulai dari model, sumber dan faktor yang mempengaruhi etika bisnis itu
sendiri. Dasar ilmu pengetahuan mengenai etika bisnis tidak datang begitu saja,
akan tetapi telah dikaji sebelumnya oleh para ahli dan kemudian dirumuskan
dasar dari ilmu itu sendiri. Dalam model etika bisnis akan dipelajari
tingkatan tingkatan dari suatu manajemen atau para manajer. Kita akan
mengetahui ciri – ciri dari tingkatan manajemen tersebut dimulai dari immoral,
amoral dan moral manajemen. Dari ketiga tingkatan itu dapat dijelaskan
tingkatan mana yang memiliki sikap etis terhadap bisnis yang dilakukan.
Kemudian
pembahasan berikutnya mengenai sumber nilai terhadap etika dalam berbisnis.
Dalam hal ini terdapat 4 pandangan yang dianggap sebagai sumber nilai-nilai
etika dalam komunitas serta dalam melakukan bisnis. Ketika melakukan suatu
usaha atau bisnis dengan etika yang baik, tentu saja ada faktor – faktor yang
dapat mempengaruhi etika kita sebagai pebisnis dalam melakukan bisnisnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka kami mendapatkan
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
Model Etika dalam berbisnis?
2. Berasal
darimana Sumber Etika dalam berbisnis?
3. Apa Definisi Etika Manajerial?
4. Faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi Etika Manajerial ?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk :
1.
Untuk mengetahui Model utama dalam
berbisni
2.
Untuk mengetahui Sumber Etika dalam
berbisnis
3.
Untuk mengetahui Definisi Etika Manajerial
4.
Untuk mengetahui faktor – faktor yang
mempengaruhi Etika Manajerial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Etika Dalam Bisnis
Menurut Carrol dan Buchollz ada 3
tingkatan manajemen bila dilihat dari para pelaku bisnis :
1.
Immoral Manajemen
Immoral
manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan
prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada
umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik
dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas
bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau
kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang
disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan
bisnisnya.
2. Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas
dalam manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen,
manajer dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama
sekali etika atau moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini,
yaitu Pertama, manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral
manager). Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam
segala keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung
akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan
bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi
etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka
tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan
pihak lain atau tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi
hanya pada hukum yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam
beraktivitas. Kedua, tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen
dengan pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan,
namun terkadang secara sengaja melanggar etika tersebut berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka, misalnya ingin melakukan efisiensi dan
lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya
berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa
aktivitas bisnis berada di luar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan
moralitas.
3.
Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika
atau moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen,
nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari
segala bentuk prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe
ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa
meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang
termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya
jika bisnis yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang
ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi
hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus
mereka patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk
melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral
selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan,
kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala
keputusan bisnis yang diambilnya.
2.2 Sumber
Nilai Etika
Secara garis besar dimanapun kita berada maka kita
akan dihadapkan pada 4 hal yang dipandang sebagai sumber nilai-nilai etika
dalam komunitas serta dalam melakukan bisnis, yaitu :
1.
Agama
Etika sebagai ajaran baik-buruk, salah-benar, atau
ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi,
bersumber terutama dari ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham
dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bibble), dan etika ekonomi
yahudi banyak menunjuk pada Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat
dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang muat dalam Al-Qur’an.
Dalam ajaran Islam, etika bisnis dalam Islam menekakan
pada empat hal Yaitu : Kesatuan (Unity), Keseimbangan (Equilibrium), Kebebasan
(FreeWill) dan tanggung jawab (Responsibility).
2.
Filosofi
Adalah
satu sumber nilai-nilai etika yang juga menjadi acuan dalam pengambilan
keputusan oleh manusaia adalah ajaran-ajaran Filosofi. Ajaran filosofi tersebut
bersumber dari ajaran-ajaran yang diwariskan dari ajaran-ajaran yang sudah
diajarkan dan berkembang lebih dari 2000 tahun yang lalu. Ajaran ini sangat
komplek yang menjadi tradisi klasik yang bersumber dari berbagai pemikiran para
fisuf-filsuf saat ini. Ajaran ini terus berkembanga dari tahun ke tahun
Di
Negara barat, ajaran filosofi yang paling berkembang dimulai ketika zaman
Yunani kuno pada abd ke 7 diantaranya Socrates (470 Sm-399 SM) Socrate percaya
bahwa manusia ada untu suatu tujuan, dan bahwa salah dan benar memainkan
peranan yang penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan
dan sesamanya sebagai seorang pengajar, Socrates dikenang karena keahliannya
dalam berbicara dan kepandaian pemikirannya. Socretes percaya bahwa kebaikan
berasal dari pengetahuan diri, dan bahwa manusia pada dasarnya adalah jujur,
dan bahwa kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang
membebani kondisi seseorang. Pepatah yang terkenal mengatakan. : “Kenalilah
dirimu” dia yang memperkanalkan ide-ide bahwa hukum moral
lebih inggi daripada hukum manusia.
3.
Budaya
Setiap transisi budaya antara satu generasi kegenerasi
berikutnya mewujudkan nilai-nilai,aturan baru serta standar-standar yang
kemudian akan diterima dalam komunitas tersebut selanjutnya akan terwujud dalam
perilaku. Artinya orang akan selalu mencoba mendekatkan dirinya atau
beradaptasi dengan perkembangan-perkembangan nilai-nilai yang ada dalam
komunitas tersebut,dimana nilai-nilai itu tidak lain adalah budaya yang hadir
karna adanya budaya pengetahuan manusia dalam upayanya untuk menginterpentasikan
lingkunganya sehingga bisa selalu bertahan hidup.
4.
Hukum
Hukum adalah perangkat aturan-aturan yang dibuat oleh
pemerintah dalam rangka untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan
bernegara. Hukum menentukan ekspektasi-ekspektasi etika yang diharapkan dalam
komunitas dan mencoba mengatur serta mendorong para perbaikan-perbaikan
masalah-masalah yang dipandang buruk atau tidak baik dalam komunitas.
Sebenarnya bila kita berharap bahwa dengan hukum dapat mengantisipasi semua
tindakan pelanggaran sudah pasti ini menjadi suatu yang mustahil. Karena
biasanya hukum dibuat setelah pelanggaran yang terjadi dalam komunitas.
Indonesia adalah Negara yang menganut system hukum
campuran dengan system hukum utama hukum Eropa Kontinental, yang dibawa oleh
Belanda ketika menjajah selama 3,5 abad lamanya. Selain system hukum Eropa
Kontinental, dengan diberlakukannya otonomi daerah, didaerah-daerah system
hukum setempat yang biasanya terkait dengan hukum adat dan system hukum agama,
khususnya hukum (syariah) islam, seperti yang berlaku diaceh.
Pada umumnya para pebisnis akan lebih banyak
menggunakan perangkat hukum sebagai cermin etika mereka dalam melaksanakan
aktivitasnya. Karena hukum dipandang suatu perangkat yang memiliki bentuk
hukuman/punishment yang paling jelas dibandingkan sumber-sumber etika yang
lain, yang cenderung lebih pada hukuman yang sifatnya abstrak, seperti mendapat
malu, dosa dan lain-lain. Hal ini sah-sah saja, tetapi ini akan sangat
berbahaya bagi kelangsungan bisnis itu sendiri.
2.3 Definisi Etika
Manajerial
Etika manajerial adalah keputusan manajemen dan
kegiatan organisasi yang berdasarkan pada nilai-nilai atau standar moral yang
dianggap baik dan luhur dalam lingkungannya dan masyarakat.Perilaku etis
terjadi bila manajer dan karyawan mengikuti prinsip dan nilai-nilai yang
disepakati. Manajer dapat memberikan contoh untuk melakukan perilaku etis
dengan menetapkan standar menyangkut penggunaan sumber daya organisasi untuk
kepentingan perusahaan daan bukan kepentingan pribadi, menangani informasi
secara jujur dan rahasia, tidak menggunakan wewenang mereka untuk mempengaruhi
orang lain melakukan perilaku tidak etis, tidak membuat kebijakan yang tidak
sengaja membuat karyawan berperilaku tidak etis dengan menetapkan tujuan yang
masuk akal.
2.4 Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Etika Manajerial
1.
Leadership
Kepemimpinan yang beretika menggabungkan antara
pengambilan keputusan yang beretika dan perilaku yang beretika. Tanggung jawab
utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan yang beretika dan
berperilaku yang beretika pula. Ada beberapa hal yang harus dilakukang oleh
seorang pemimpin yang beretika yaitu :
a.
Mereka
berperilaku sedemikian rupa sehingga sejalan dengan tujuannya dan organisasi.
b.
Mereka berlaku
sedemikian rupa sehingga secara pribadi, dia merasa bangga akan perilakunya.
c.
Mereka
berperilaku dengan sabar dan penuh keyakinan akan keputusan yang diambilnya dan
dirinya sendiri.
d.
Mereka
berperilaku dengan teguh. Ini berarti berperilaku secara etika sepanjang waktu,
bukan hanya bila dia merasa nyaman untuk melakukannya.
e.
Seorang pemimpin
etika, menurut Blanchard dan peale, memiliki ketangguhan untuk tetap pada
tujuan dan mencapai apa yang dicita-citakannya.
f. Mereka berperilaku secara konsisten dengan apa yang
benar-benar penting. Dengan kata lain dia tetap menjaga perspektif
2.
Strategi dan
performasi
Fungsi yang penting dari sebuah manajemen adalah untuk
kreatif dalam menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat
perusahaannya mencapai tujuan perusahaa terutama dari sisi keuangan tanpa harus
menodai aktivitas bisnisnya berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang
jelek akan memiliki kesulitan besar untuk menyelaraskan target yang ingin
dicapai perusahaannya dengan standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi
perusahaan yang disebut excellence harus bisa melaksanakan seluruh
kebijakan-kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang
jujur.
3.
Karakter individu
Perjalanan hidup suatu perusahaan tidak lain adalah
karena peran banyak individu dalam menjalankan fungsi-fungsinya dalam
perusahaan tersebut. Perilaku para individu ini tentu akan sangat mempengaruhi
pada tindakan-tindakan mereka ditempat kerja atau dalam menjalankan aktivitas
bisnisnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi karakter individu Faktor –faktor
tersebut yangpertama adalah pengaruh budaya, pengaruh budaya ini adalah
pengaruh nilai-nilai yang dianut dalam keluarganya. Faktor yang kedua,
perilaku ini akan dipengaruhi oleh lingkunganya yang diciptakan di tempat
kerjanya. Faktor yang ketiga adalah berhubungan dengan lingkungan
luar tempat dia hidup berupa kondisi politik dan hukum, serta pengaruh–pengaruh
perubahan ekonomi. Kesemua faktor ini juga akan terkait dengan status individu
tersebut yang akan melekat pada diri individu tersebut yang terwujud dari
tingkah lakunya.
4.
Budaya perusahaan
Budaya perusahaan adalah suatu kumpulan nilai-nilai,
norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu
perusahaan. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong
tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena
kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan
tersebut, sehingga kemudian dipercayai sebagai suatu perilaku, yang bisa
ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya
perusahaan inilah yang membantu terbentuknya nilai dan moral ditempat kerja,
juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholdernya. Aturan-aturan dalam
perusahaan dapat dijadikan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi
dan misi perusahaan.
25.1 Studi Kasus
2.5.1 Contoh Kasus Immoral Manajemen
Dalam Etika Bisnis
Hasil penyelidikan oleh aparat hukum dan juga oleh
beberapa LSM pecinta alam. Berulang-ulangnya kebakaran hutan belakangan ini
karena beberapa pelanggaran hukum oleh para perusahaan kayu dan perkebunan
kelapa sawit. Biasanya para pelaku memiliki beberapa motif dalam menjalankan
aktivitasnya.
1.
Motif pertama adalah mendapatkan kayu secara ilegal. Beberapa perusahaan
yang sengaja membakar hutan tersebut sebenarnya adalah Perusahaan yang telah
melakukan pencurian kayu, sehingga untuk menghilangkan jejaknya mereka
melakukan penebangan hutan secara sengaja. Hal ini dibuktikan dengan melihat
tunggal pohon bekas potongan gergaji mesin.
2.
Motif kedua adalah mempercepat pembersihan lahan. Misalnya bagi perusahaan
yang memiliki perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Hasil temuan dari
LSM Save Our Borneo (SOB) aktifitas pembakaran ini di lakukan
pada malam hari pada blok yang baru dibuka dan berdekatan dengan hutan cara itu
adalah salah satu cara untuk menghilangkan jejak yaitu bila api menyebar
kehutan, maka yang disalahkan adalah komunitas yang melakukan pembakaran.
3.
Motif ketiga adalah Agar kenaikan PH tanah. Pada lahan Gambut biasanya PH
tanah berkisar pada 3-4. Kondisi ini Komunitas perkebunan kelapa sawit dan
AKASI tidak cocok tumbuh. Dengan melakukan pembakaran, apa yang tersisa mampu
menaikkan PH, Tanah menjadi 5-6 sehingga layak untuk di Tanami.
2.5.1.1 Solusi
Para pelaku bisnis memanfaatkan kelemahan-kelemahan
dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri
mereka secara individu atau kelompok mereka, tentu saja ini telah
menyalahi etika berbisnis. Dalam berbisnis harus memperhatikan faktor
kelestarian lingkungan sekitar yang juga dapat menopang usaha bisnis tersebut.
Seharusnya pelaku bisnis sudah dapat memperkirakan bahaya atau dampak yang akan
ditimbulkan. Pelaku bisnis harus tahu seberapa batas yang sewajarnya. Karena
ulah tersebut, banyak pihak yang dirugikan, baik makhluk hidup disekitarnya
juga dampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini tentunya harus menjadi
pembelajaran bagi kita semua, terutama perusahaan-perusahaan besar yang ingin
membuat suatu usaha atau tindakan bagi perusahaannya agar lebih memikirkan faktor
lingkungan disekitar wilayah yang bersangkutan.
2.5.2 Contoh Kasus Amoral Manajemen Dalam Etika Bisnis
Kasus Lapindo Brantas
Inc. (LBI). Akibat kecerobohan yang dilakukan pihak manajemen LBI, hingga saat
ini semburan lumpur masih berlangsung hingga saat ini sehingga menggenangi ruas
jalan dan pemukiman penduduk. Beberapa prosedur yang dilanggar LBI antara lain:
1.
LBI
tidak mengindahkan Surat Edaran Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
1462/20/DJP/1996, yaitu salah satu syarat pemberian Kuasa Pertambangan (KP)
eksplorasi atau eksploitasi, LBI selaku pemegang KP harus melakukan mekanisme
Pengumuman Setempat (PS) untuk melindungi kepentingan sosial rakyat setempat
dimana usaha pertambangan dilakukan.
2.
LBI
tidak mengindahkan PP Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. LBI tidak mengindahkan
Pasal 33 ayat 1, Pasal 7 ayat 1.
3.
LBI
sengaja melanggar prosedur utama sebagai standar operasional pengeboran minyak
dan gas. LBI sengaja tidak memasang selubung bor.
2.5.2.1 Solusi
Sebelum kita membuat suatu perusahaan atau bisnis yang
berjalan di bidang pertambangan, kita haru melakukan AMDAL (Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan) terlebih dahulu. Sehingga, dalam menjalankan sebuah bisnis
yang bergerk di bidang tersebut tidak merusak lingkungan yang ada di sekitar
kita, serta tidak merugikan banyak pihak. Kasus tersebut hingga tahun 2016
sekarang ini masih saja berkutat dan masih menjadi pembicaraan di kalangan
pemerintah. Akibat, dari kecerobohan pihak manajemen LBI (Lapindo Brantas Inc)
semburan lumpur panas saat ini masih saja terjadi walaupun dari pihak manajemen
sudah memasang pipa agar lumpur panas tersebut tidak bertambah semburan yang
dihasilkan. Penggantian kerugian yang dijanjikan oleh Pemerintah sampai saat
ini belum sepenuhnya diterima oleh warga sekitar perusahaan tersebut.
Pemerintah harus bergerak cepat agar penggantian kerugian yang dialami oleh
korban lumpur lapindo dan memulihkan kembali lingkungan yang asri.
2.5.3 Contoh
Kasus Moral Manajemen Dalam Etika Bisnis
Contoh kasus enron & KAP Arthur Anderse. Enron, suatu
perusahaan yang menduduki ranking tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di
Amerika Serikat dan merupakan perusahaan energi terbesar di AS jatuh bangkrut
dengan meninggalkan hutang hampir sebesar US $ 31.2 milyar. Dalam kasus Enron
diketahui terjadinya perilaku moral hazard (perilaku jahat) : diantaranya
manipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS
padahal perusahaan mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan
keinginan perusahaan agar saham tetap diminati para investor, kasus memalukan
ini konon ikut melibatkan orang dalam gedung putih, termasuk wakil presiden
Amerika Serikat.
2.5.3.1 Solusi
Suatu perusahan yang ingin perkembangannya maju siapa
yang tidak mau, apa lagi para investor yang sudah menanamkan sahamnya terhadap
perusahaan yang perkembangannya maju dengan grafik yang bagus seperti,
Perusahaan Enron. Pemilik perusahaan mengupayakan segala cara agar perusahaan
yang didirikannya berkembang dengan pesat. Tetapi, cara yang dilakukan tersebut
merupakan perilaku yang tidak jujur untuk melakukan agar perusahaan tersebut.
Seharusnya, perusahaan Enron melakukan promosi atau bekerja sama dengan
perusahaan lain yang berkualitas bagus, melakukan inovasi dan suasana baru,
atau peraturan baru yang membuat para atasan (pemilik perusahaan dan investor)
dan bawahan (karyawan) menghargai waktu dan tidak merugikan banyak
pihak.
2.5.4 Contoh
Kasus Agama Dalam Etika Bisnis
KASUS PELANGGARAN HAM YANG TERJADI DI MALUKU
Konflik dan kekerasan yang terjadi di Kepulauan Maluku
sekarang telah berusia 2 tahun 5 bulan; untuk Maluku Utara 80% relatif aman,
Maluku Tenggara 100% aman dan relatif stabil, sementara di kawasan Maluku
Tengah (Pulau Ambon, Saparua, Haruku, Seram dan Buru) sampai saat ini masih
belum aman dan khusus untuk Kota Ambon sangat sulit diprediksikan, beberapa
waktu yang lalu sempat tenang tetapi sekitar 1 bulan yang lalu sampai sekarang
telah terjadi aksi kekerasan lagi dengan modus yang baru ala ninja/penyusup
yang melakukan operasinya di daerah – daerah perbatasan kawasan Islam dan
Kristen (ada indikasi tentara dan masyarakat biasa). Penyusup masuk ke
wilayah perbatasan dan melakukan pembunuhan serta pembakaran rumah. Saat ini
masyarakat telah membuat sistem pengamanan swadaya untuk wilayah pemukimannya
dengan membuat barikade-barikade dan membuat aturan orang dapat masuk/keluar
dibatasi sampai jam 20.00, suasana kota sampai saat ini masih tegang, juga
masih terdengar suara tembakan atau bom di sekitar kota. Akibat
konflik/kekerasan ini tercatat 8000 orang tewas, sekitar 4000 orang luka –
luka, ribuan rumah, perkantoran dan pasar dibakar, ratusan sekolah hancur serta
terdapat 692.000 jiwa sebagai korban konflik yang sekarang telah menjadi
pengungsi di dalam/luar Maluku. Masyarakat kini semakin tidak percaya dengan
dengan upaya – upaya penyelesaian konflik yang dilakukan karena
ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyelesaian
konflik, ada ketakutan di masyarakat akan diberlakukannya Daerah Operasi
Militer di Ambon dan juga ada pemahaman bahwa umat Islam dan Kristen akan
saling menyerang bila Darurat Sipil dicabut. Banyak orang sudah putus asa,
bingung dan trauma terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di Ambon ditambah
dengan ketidak-jelasan proses penyelesaian konflik serta ketegangan yang
terjadi saat ini. Komunikasi sosial masyarakat tidak jalan dengan baik,
sehingga perasaan saling curiga antar kawasan terus ada dan selalu bisa
dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang menginginkan konmflik jalan terus.
Perkembangan situasi dan kondisis yang terakhir tidak ada pihak yang
menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehingga masyrakat
mencari jawaban sendiri dan membuat antisipasi sendiri.Wilayah pemukiman di
Kota Ambon sudah terbagi 2 (Islam dan Kristen), masyarakat dalam melakukan
aktifitasnya selalu dilakukan dilakukan dalam kawasannya hal ini terlihat pada
aktifitas ekonomi seperti pasar sekarang dikenal dengan sebutan pasar kaget
yaitu pasar yang muncul mendadak di suatu daerah yang dulunya bukan pasar hal
ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan riil masyarakat; transportasi menggunakan
jalur laut tetapi sekarang sering terjadi penembakan yang mengakibatkan korban
luka dan tewas; serta jalur – jalur distribusi barang ini biasa dilakukan
diperbatasan antara supir Islam dan Kristen tetapi sejak 1 bulan lalu sekarang
tidak lagi juga sekarang sudah ada penguasa – penguasa ekonomi baru pasca
konflik. Pendidikan sangat sulit didapat oleh anak – anak korban langsung/tidak
langsung dari konflik karena banyak diantara mereka sudah sulit untuk mengakses
sekolah, masih dalam keadaan trauma, program Pendidikan Alternatif Maluku
sangat tidak membantu proses perbaikan mental anak malah menimbulkan masalah
baru di tingkat anak (beban belajar bertambah) selain itu masyarakat membuat
penilaian negatif terhadap aktifitas NGO (PAM dilakukan oleh NGO). Masyarakat
Maluku sangat sulit mengakses pelayanan kesehatan, dokter dan obat – obatan
tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan harus diperoleh dengan harga
yang mahal; puskesmas yang ada banyak yang tidak berfungsi. Belum ada media
informasi yang dianggap independent oleh kedua pihak, yang diberitakan oleh
media cetak masih dominan berita untuk kepentingan kawasannya (sesuai lokasi
media), ada media yang selama ini melakukan banyak provokasi tidak pernah
ditindak oleh Penguasa Darurat Sipil Daerah (radio yang selama ini digunakan
oleh Laskar Jihad (radio SPMM/Suara Pembaruan Muslim Maluku).
2.5.4.1 Solusi
Menghadapi persoalan seperti kasus diatas dapat
diselesaikan dengan komunikasi yang baik yang terus menerus dilakukan supaya
konflik bisa terselesaikan sampai ke akar-akarnya. Pemerintah pusat ataupun
pemerintah daerah harus cepat tanggap jangan hanya melakukan pendekatan secara
militer saja tetapi harus turun langsung ke daerah konflik supaya mengetahui
permasalahan sebenarnya ada dimana dan harus menindak tegas para provokator
yang berusaha memancing konflik. Para pemuka agama setempat juga seharusnya
duduk bersama dan saling silaturahmi agar terciptanya suasana yang kekeluargaan
antara ISLAM dan KRISTEN.
2.5.5 Contoh
Kasus Leadership Dalam Etika Bisnis
Chairul Tanjung menyatakan bahwa dalam membangun
bisnis, mengembangkan jaringan adalah hal yang penting. Selain itu memiliki
rekanan yang baik sangat diperlukan. Membangun relasi pun bukan hanya kepada
perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun.
Baginya, pertemanan yang baik akan membantu proses berkembangnya
bisnis yang dikerjakan. Ketika bisnis pada kondisi tidak bagus maka jejaring
bisa diandalkan.
Dalam hal investasi, Chairul Tanjung memiliki
idealisme bahwa perusahaan lokalpun bisa menjadi perusahaan yang bisa
bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ia tidak menutup diri
untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri.
Menurutnya modal memang penting dalam membangun dan
mengembangkan bisnis. Namun kemauan dan kerja keras, merupakan hal paling pokok
yang harus dimiliki seseorang yang ingin sukses. Baginya mendapatkan mitra
kerja yang handal adalah segalanya. Dimana membangun kepercayaan sama halnya
dengan membangun integritas.
Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda
sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya
membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan
sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang mengambil
jalan seketika, karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci
utama dalam mencuri hati pasar.
2.5.5.1 Solusi
Chairul Tanjung adalah seorang pengusaha sukses yang
ada di Indonesia. Cahairul Tanjung juga biasa kita sebut dengan anak singkong.
Sikap kepemimpinannya (Leadership) yang membuat perusahaan yang iya bangun dari
nol hingga sebesar ini berkembang dengan maju. Dilandasi rasa kepemimpinan dan
tanggungjawab patut dicontoh oleh para pengusaha di Indonesia. Karakter
seseorang yang pekerja keras, kejujuran, bertanggungjawab, serta
kepemimpinanlah yang bisa membangun bisnis dengan sukses dan kemauan yang
keras, rancangan ide yang selalu baru, dan inovasi baru yang akan diberikan
kepada investor agar tetap bertahan dan mau bekerja sama dengan perusahaan atau
bisnis.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Sumber
ilmu dari etika bisnis itu sendiri. Dimulai dari model, sumber dan faktor yang
mempengaruhi etika bisnis itu sendiri. Dasar ilmu pengetahuan mengenai etika
bisnis tidak datang begitu saja, akan tetapi telah dikaji sebelumnya oleh para
ahli dan kemudian dirumuskan dasar dari ilmu itu sendiri. Dalam model etika
bisnis akan dipelajari tingkatan tingkatan dari suatu manajemen atau para
manajer. Untuk mengetahui ciri – ciri dari tingkatan manajemen tersebut dimulai
dari immoral, amoral dan moral manajemen. Dari ketiga tingkatan itu dapat
dijelaskan tingkatan mana yang memiliki sikap etis terhadap bisnis yang
dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Arijanto, Agus., Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, Edisi ketiga, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.
disertasi Js. Drs. Ongky Setio Kuncono, MM, MBA, Pengaruh Etika Confucius
Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang Eceran Etnis
Tionghoa di Surabaya.
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49)
Sumber Internet :
https://dokumen.tips/documents/model-etika-dalam-bisnis.html
Diakses tanggal 25 Maret 2020 Pukul 10:00
https://shunitafebryliwan.wordpress.com/2015/10/20/model-etika-dalam-bisnis- Diakses
tanggal 25 Maret 2020 Pukul 10:30
sumber-nilai-etika-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-etika-manajerial/
Diakses tanggal 19 Maret 2020 Pukul 17:00
Komentar
Posting Komentar